“Seventy-five percent of our planet is water – can you swim?”
“The water is your friend… you don’t have to fight with water, just share the same spirit as the water, and it will help you move.” (Alexandr Popov)
Selama tiga puluh tujuh tahun, hubungan saya dengan air adalah seperti hubungan benci tapi rindu. Saya sebetulnya suka “berenang” (maksud saya dengan “berenang” adalah kegiatan masuk ke dalam kolam, bermain air, berendam, dll, dengan syarat selama kaki saya masih menginjak dasar kolam dan kepala saya berada di atas air), namun saya tidak bisa berenang (mengapung, mengambang, kepala di dalam air, mengayuh dengan kaki dan tangan untuk maju).
Saya tidak fobia air…
… kecuali kalau kepala saya berada di dalam air. Karena alasan tertentu, saya panik ketika merasakan hidung saya tidak bisa bernapas di dalam air. Padahal kalau menahan napas di udara biasa, saya sanggup menahannya hampir 1 menit. Gara-gara kepanikan ini, saya pernah batal menyelam, padahal saya sudah nyemplung di laut lengkap dengan peralatan selam. Di detik ketika saya hendak mencelupkan kepala, saya tidak berani.
Jadi saya mengira seumur hidup saya tidak akan bisa berenang, dan saya cukup puas “berenang” saja, pakai baju pelampung atau sekedar bermain-main di kolam dangkal.
Betapa bahagianya saya, ketika kemarin, 25 September 2011, untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa saya BISA berenang! Wooooooo…!! Rasanya menakjubkan!
Saya mengikuti les renang. Di pertemuan pertama, saya masih belum berani “menenggelamkan kepala”. Air masih menakutkan bagi saya, walaupun guru saya berulang kali mengatakan, “Jangan takut air, jangan takut air!”. Setiap progress yang saya capai selalu berantakan setiap kali saya mengalami serangan panik gara-gara gelagapan untuk bernapas.
Di pertemuan kedua, Mbak Dinar, guru renang saya, bertanya, “Memangnya apa yang ditakutin?”
“Takut gak bisa napas Mbak!”
Mendengar jawaban saya, dia langsung melatih saya menahan napas di dalam air. Kita hitung 5 dulu ya… ambil napas lewat mulut, haaaaaaapp… tahan… yak celupkan wajah… satu.. dua.. tiga.. empat.. lima, cukup!
Mengingat lagi latihan kemarin, saya ingat saya tetap merasa insecure ketika udara yang biasanya saya hirup berganti dengan zat cair yang memblokir indra penciuman dan mengepung seluruh wajah saya. Tapi lumayan, saya tidak panik sampai gelagapan.
Kemudian saya mencoba lagi, kali ini 6 hitungan… satu… dua… tiga… empat… lima… enam. Berhasil!
Tujuh hitungan… delapan hitungan… sembilan.. sepuluh.. sebelas… sampai terakhir mencapai 16 hitungan.
Prosesnya pelan. Terkadang saya terbatuk-batuk meminum air karena terlalu tergesa menarik napas waktu mengangkat kepala. Tapi akhirnya saya sudah percaya bahwa minimal saya sanggup bertahan 10 detik, meskipun rasa insecure itu masih saja ada. Memang tidak mungkin dalam seketika saya menjadi bersahabat dengan air, tapi proses adaptasi sudah dimulai.
Setelah merasa sanggup menahan napas, saya mulai latihan mengapung dengan kepala dicelupkan. Dengan tangan tetap berpegangan di pinggir kolam, saya perlahan membiarkan badan mengapung sambil menggerak-gerakkan kaki. Guru saya bilang, nanti waktu meluncur kaki harus digerakkan agar bisa maju.
Dengan terbata-bata saya ulangi proses di atas, terbatuk-batuk, terengah-engah, tersedak, namun harus terus dilakukan sampai rasa percaya diri saya perlahan muncul. Di satu titik, saya sudah bisa mengapungkan hampir seluruh tubuh, dengan hanya bertopang pada kekuatan jari tangan. Tentunya dengan menahan napas di dalam air, kurang lebih 5 – 9 detik.
Setelah tidak terlalu takut, saya mencoba menggunakan pelampung. Saya test dulu kekuatan apung benda itu dengan cara meloncat-loncat sambil jongkok di air. Setelah yakin benda tsb mampu mencelatkan kembali gaya tekan saya, saya pun mencoba meluncurkan diri menggunakan pelampung.
Percobaan pertama tidak langsung berhasil. Hanya beberapa detik saya sudah ingin bernapas, padahal saya belum mencapai ujung kolam. Walhasil saya tersedak-sedak karena gelagapan ingin timbul ke permukaan seketika. Rupanya kesalahan saya adalah lupa menggerakkan kaki sehingga saya tidak maju, sedangkan detik terus berjalan.
Kali kedua saya coba, masih juga demikian. Susahnya mengkoordinasikan gerakan kaki dengan hitungan menahan napas. Saking konsentrasi ke hitungan, kaki terlupakan. Maka saya kembali ke sudut tempat saya latihan pertama. Mulai lagi dari awal, dengan berpegangan di pinggir, latihan menggerakkan kaki sampai bisa mengapungkan badan.
Tanpa saya sadari, pengulangan-pengulangan itu membuat tubuh dan pikiran saya makin beradaptasi dengan air. Entah kapan, kadar ketakutan saya berkurang. Selain itu, Mbak Dinar menawarkan saya untuk memakai kacamata renangnya. Wah, ternyata sangat besar perbedaannya antara memejamkan dengan membuka mata. Dengan kembalinya indera penglihatan saya, benak saya bisa memberi tahu saya bahwa kolam ini dangkal dan ujung kolam di sana hampir saya capai, sehingga tidak lagi menakutkan walaupun selama beberapa detik kepala saya berada di dalam air.
Walhasil setelah 1 jam lebih berlatih, akhirnya saya berhasil meluncur untuk pertama kalinya menggunakan pelampung! Merasa percaya diri, tidak lama kemudian saya mampu meluncur tanpa pelampung, walaupun tetap harus ditunggui seseorang di ujung sana agar saya yakin bahwa saya pasti dibantu kalau saya mengalami kesulitan.
Dan rupanya di situlah titik baliknya. Ketika saya tahu saya bisa meluncur dan maju sendiri tanpa dibantu alat apapun, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya berani meluncur dan berenang sendiri! Kali ini tidak perlu ditunggui di ujung sana.
Waaahhh!! Rasanya luaaaaaarrr biasa!!
Ingin rasanya berteriak dan bercerita pada semua orang, SAYA BISA MENGAMBANG! SAYA BISA BERENANG!
Aaahh bahkan saat ini pun saya masih merasakan eforianya. Bayangkan! Saya! Saya, gitu! Bisa ngapung! Gak takut lagi dengan air! Wawaawawawaawww….
Memang belum jauh jarak yang saya tempuh. Kalau dihitung, paling jauh hanya 9 detik kalau ditempuh dengan mengayuhkan kaki. Mungkin sekitar 2 meter kurang. Tapi bagi saya, itu prestasi yang BESAR!! Ditambah lagi, saya baru tau, ternyata tanpa menggerakkan kaki pun, selama masih menahan napas, saya tetap mengapung dan maju! Wow, amazing.
Tidak sabar rasanya menunggu sesi berikutnya minggu depan. Setelah bisa meluncur dengan gaya bebas dan menahan napas, Mbak Dinar akan mengajari saya berenang gaya dada. Menurut dia, dengan gaya dada kita lebih mudah menarik kepala keluar untuk menghirup napas sebab ada daya dorong ke atas dari kombinasi gerakan tangan dan kaki.
Thanks God, thanks a lot for this great experience!
Sebagai sekedar catatan, berikut ini tahap-tahap yang menurut saya membantu keberhasilan saya:
1. Latihan menahan napas di dalam air.
Tarik napas dalam-dalam lewat mulut, lalu celupkan wajah di air. Tidak perlu seluruh kepala, cukup wajah saja, seperti kalau kita mau mengaca di air. Peganglah besi atau pinggiran kolam, agar bisa mengontrol sendiri kapan ingin keluar untuk bernapas dan agar kita yakin kita tidak mungkin tenggelam. Segera mulai berhitung. Mulai dengan 5 hitungan dulu. Kemudian bertahap ditambah 1, kemudian tambah 2, kemudian 3, dst. Latihan ini bagi saya bermanfaat untuk memerangi rasa panik karena ketakutan tidak bisa bernapas. Selain itu, juga membantu bersahabat dengan lingkungan yang asing di mana hidung saya “terkepung air”.
2. Latihan mengatur napas.
Napas harus ditarik dari mulut, dibuang lewat hidung. Ini harus dibiasakan agar menggantikan refleks kita yang menarik dan membuang napas dengan hidung. Ini juga latihan mengembangkan paru-paru. Napas yang teratur juga bermanfaat untuk mengurangi rasa takut dan me-rileks-kan diri. Pengalaman saya, karena takut maka napas saya jadi pendek-pendek, sehingga langsung merasa kehabisan napas di dalam air, dan menganggap tekanan air di dada saya sebagai “serangan”.
Tips: setiap kali beristirahat, praktekkan teknik napas ini sebanyak 5 kali dengan menarik napas di udara lalu membuangnya di dalam air. *ya, kamu harus menenggelamkan kepalamu*
3. Latihan mengambangkan tubuh.
Cobalah untuk mengapungkan diri secara bertahap. Mula-mula berpeganganlah di pinggir kolam dengan posisi kedua telapak tangan sampai siku rapat di dinding kolam. Jadi yang harus mengapung cukup dari dada sampai kaki, sedangkan berat tubuh ditumpukan semua di tangan dan lengan. Nanti secara bertahap kurangi tumpuan di tangan (sehingga siku tidak lagi rapat di dinding kolam, melainkan hanya pergelangan tangan saja), kurangi terus sampai akhirnya hanya jari-jemari saja yang menyentuh dinding. Tidak masalah walaupun hanya bisa mengapung 1 atau 2 detik. Manfaat dari latihan ini bagi saya adalah membuat saya percaya bahwa tubuh saya sebetulnya punya daya apung.
4. Latihan menggerakkan kaki.
Dengan posisi nomor 3, gerak-gerakkan kaki untuk mempertahankan tubuh tetap mengambang. Sejujurnya saya tidak tahu persis gerakan seperti apa yang benar. Saya hanya diinstruksikan untuk menepuk-nepuk air kuat-kuat dengan cara menggerakkan kaki dari lutut sampai pergelangan kaki secara bergantian kiri dan kanan. Pengalaman saya, hal ini tidak mudah. Rasanya pegal, sehingga tidak lama gerakan saya tidak lagi seirama. Kadang kaki kiri bergerak, tapi kaki kanan tidak. Kadang gerakannya lemah tanpa tenaga sehingga tidak ada daya angkat. Kadang malah lupa bergerak sama sekali. Jadi latihan ini memakan cukup banyak waktu bagi saya, sampai saya mencapai titik di mana tidak perlu lagi berpikir untuk menggerakkan kaki.
5. Menggabungkan latihan 1, 3, dan 4.
Dengan mencelupkan wajah di air, tumpuan di jari bisa minimal, sehingga tubuh lebih mudah mengapung. Dibantu dengan gerakan kaki, hasilnya saya mengapung lebih lama. Mula-mula saya masih bertumpu di siku sambil mengapungkan tubuh, lalu mengurangi tumpuan sampai hanya di jari-jari saja, dan ketika saatnya sudah tepat, saya menarik napas dalam-dalam lewat mulut, mencelupkan wajah, dan mulai menghitung 1 sampai 5. Di latihan ini, seluruh tubuh saya dari lengan (posisi di atas kepala), kepala, sampai ujung kaki, sudah tercelup seluruhnya di permukaan air. Yang perlu dilatih adalah gerakan kaki untuk mempertahankan posisi tsb selama mungkin.
Seperti latihan yang lainnya, saya juga tidak langsung bisa. Kendalanya adalah koordinasi. Waktu saya konsentrasi di menahan napas, saya lupa menggerakkan kaki. Sebaliknya waktu saya konsentrasi di kaki, saya melupakan kepercayaan diri bahwa saya sanggup menahan napas, sehingga akibat buru-buru menarik napas, saya tersedak. Well, intinya latihan koordinasi.
6. Latihan mempercayai pelampung.
Maksud saya papan pelampung ya (yang bentuknya persegi itu), bukan baju pelampung, juga bukan pelampung yang dipasang di lengan.
Saya pribadi lebih percaya pada pelampung daripada orang, karena dengan memegang pelampung, kontrol ada di saya. Kalau berpegangan pada orang lain, selalu saja mereka berusaha melepaskan diri dari saya (tujuannya sih baik, yaitu untuk melatih kita agar bisa sendiri). Padahal belum tentu saya siap dilepaskan. Intinya saya harus dibiarkan menemukan irama saya sendiri. Jadi dengan pelampung yang bisa saya pegang di tangan, saya siap belajar meluncur. Untuk itu saya harus mengetes dulu dengan cara mengalami sendiri apa yang terjadi kalau saya membebankan berat tubuh saya di pelampung tsb. Saya menyarankan hal yang sama pada kalian. Cobalah sendiri, raih pelampung, gunakan untuk bertopang, sampai kalian mengetahui selahnya. Belajarlah juga untuk bangun (dari posisi mengapung telungkup menjadi tegak) dengan memanfaatkan pelampung sebagai tumpuan. Harusnya kita berdiri dengan tenang, tidak terburu-buru, agar tidak menelan atau tersedak air.
7. Miliki dan gunakan kacamata renang.
Trust me. It helps a lot. Dengan mengenakan goggle, ketakutan saya jauh berkurang karena saya jadi bisa MELIHAT lingkungan yang saya masuki, bukan hanya MERASAKAN. Selain itu, indera penglihatan yang aktif membuat saya punya pengalih perhatian sehingga tidak melulu terfokus pada “saya sedang tidak bisa bernapas”. Waktu itu otomatis benak saya berpikir, “Wah ternyata airnya bening kehijauan, dan ada partikel-partikel halus seperti debu. Oh di bawah situ ada lantai. Wah ternyata dinding kolamnya kotak-kotak berwarna putih. Oh ternyata garis-garis kotaknya agak kotor. Nah itu dia ujung kolamnya.” Tau-tau sudah sampai di ujung kolam.

8. Latihan meluncur dengan pelampung.
Mulanya gunakan pelampung dulu, dan tidak perlu bernapas. Tahan napas saja. Konsentrasi pada gerakan kaki agar bisa maju. Untuk mendongkrak kepercayaan diri, minta seseorang menjagamu di ujung satunya.
Tips: Perhatikan posisi awal untuk meluncur. Posisikan SELURUH TUBUH di dalam air sampai sebatas leher. Kalau kolamnya dangkal (misalnya hanya mencapai perut), kamu harus berjongkok agar posisi wajahmu sedekat mungkin dengan permukaan air. Dengan begitu, kamu punya kesempatan untuk mengambangkan seluruh tubuh SEBELUM meluncur. Baru setelah merasakan seluruh tubuh mengambang, tendang dinding kolam dan meluncurlah. Bagi saya, sensasinya selangit(!) waktu pertama kalinya tubuh ini meluncur dan mengambang sepenuhnya, tanpa bobot.

Kira-kira begitulah pengalaman saya di 2 sesi les renang kemarin. Senaaaang sekali. Kalau kata Syahrini, “Sesuatu banget! Alhamdulilah yaa….”
Saya yakin, tidak lama lagi saya akan bisa berenang “beneran” seperti ilustrasi di bawah ini. Amiiinnn..



Berawal dari jualan kain batik Garutan, belakangan ini banyak sekali ide-ide berseliweran di benakku. Di antaranya menyediakan baju batik siap pakai. Yang paling simple tentunya kemeja pria, yang potongannya memang ga neko-neko.
