Grogol Banjir Lagi

banjir

Hari ini untuk kesekian kalinya Grogol banjir… dan aku beruntung lagi….

Sejak jam 6 sore sebenarnya sudah ada tanda-tanda banjir. Aku pesan taksi, tapi gak dapet, karena waiting list sudah panjang. Hujan yang turun sejak setelah makan siang pun belum juga berhenti. Biasanya aku ngeh dan segera pulang sebelum jalanan menuju kos tergenang banjir dan tidak bisa dilalui.

Tapi sore ini perhatianku teralihkan, karena terlalu excited browsing-browsing persiapan the big day. Tau-tau sudah lewat jam 8 malam, bos sms menanyakan apakah aku bisa pulang. Dengan pede kujawab, “Bisa, gampang kok Bos.”

Lagi-lagi aku gak ngeh. Kupikir bos menanyakan kendaraan pulang. Lah ya kalau itu mah emang gampang banget, bajaj kan banyak.

Well, kejutan pertama menanti di fly over Grogol. Antrian panjang kendaraan yang mau belok kiri menuju ke atas sudah mengular sejak selepas lampu merah. Bayangkan! Arah lurus ke Kyai Tapa pun jadi macet. Di bawah jembatan sudah seperti suasana mudik Lebaran, karena selain macet dan bising oleh klakson, puluhan (ratusan?) orang pun memadati trotoar dan bahu jalan menunggu bis yang tak kunjung datang. Karena gak sabar nunggu, aku turun dari bajaj dan berjalan kaki.

Tapi, ups, aku gak bisa pergi terlalu jauh. Belakang terminal banjir sangat dalam. Yah, nasib. Dalam hati aku menimbang-nimbang, apa mau nyemplung ke air coklat itu dan berjalan kaki sampai kosan, atau mencoba alternatif lain (yang belum kepikiran apa). Hanya butuh sedetik untuk mengeliminasi kemungkinan pertama. Kalau gak terpaksa, aku gak rela menyerahkan kemulusan kulitku pada entah kotoran apa di dalam genangan keruh itu. :P

Jadi aku terus berjalan sampai Susilo 2 yang masih kering, dengan niatan untuk memotong jalan lewat Susilo 2 abjad menuju Warung Kito. Aku bisa nongkrong nyaman di sana makan salad buah sambil menunggu surut, pikirku.

Rencana tinggal rencana. Ternyata semua gang Susilo 2 abjad juga banjir. Belum putus asa, aku coba akses dari jalan besar yaitu Muwardi 1. Dan inilah kejutan kedua. Muwardi 1 juga banjir! Memang sebelah sini (dekat mulut jalan Susilo 2 sampai Ayam Goreng Tiga Rasa) kering, tapi yang ke arah perempatan Susilo 3 terlihat genangan yang cukup tinggi sehingga motor-motor pun mogok. Sepengetahuan aku, banjir biasanya hanya di lurusan Susilo 3. Jadi kalau air sudah merayap ke Muwardi 1, di Susilo 3 dan 4 sudah sedalam apa? Jangan-jangan air sudah masuk ke kosan? Duh. :(

Plan A gagal, plan B juga gagal. Oya, plan B adalah nongkrong di Melodi Raso (sodaraan sama Warung Kito, jadi kayaknya di sini juga ada salad buah. iya, memang malam ini aku lagi ngidam salad buah, hehe). Padahal Melodi Raso cuma berjarak 2 bangunan dari Tiga Rasa. Tapi ya itu, aku ogah nyemplung ke air.

Plan C, cari bajaj. So aku nyegat bajaj. Dan, gagal maning. Gak ada abang bajaj yang berani lewat. Gak bisa lewat Neng! Pasti mogok. Hayaaahh…

Ya sudah, plan D, nongkronglah aku di Warung Steak samping Tiga Rasa. Program diet berantakan deh. Dengan alasan gak enak kalau ngendon lama-lama di situ tanpa pesan makanan, maka seporsi sirloin steak, seporsi calamari, dan 2 botol coca cola sukses berpulang ke dalam lambungku. :P Sempat sms Masku, “Wah, aku ga bisa pulang kos!” Eh dia malah ngetawain, “Banjir? Hihi”. Dasar!

Cukup lama aku nunggu di situ. Untung dia buka sampai jam 12 malam. Gak kebayang deh kalau dia tutup jam 10, mau ke mana aku? Untung juga aku bawa buku, so gak sampai mati gaya. Oya, aku nyampe situ jam 21.30. Lebih satu jam kemudian, hampir jam 11 malam, aku bayar bon dan keluar meninjau situasi, berharap air sudah surut.

Well, surut sih, tapi cuma dikit. Ujung Muwardi 1 masih tergenang, yang berarti belum aman untuk pulang berjalan kaki. Tapi di sinilah aku beruntung. Selagi aku bengong di pinggir jalan, lewat sebuah bajaj menurunkan penumpang. Tanpa ayal aku tanya, “Bang, ke situ berani gak?” sambil menunjuk arah yang kumaksud. Si Abang sempat bingung karena sebelumnya dia sudah muter juga dan portal-portal ditutup (secara udah lewat jam 10 malam). Tapi waktu aku bilang, coba aja ya Bang, dia pun setuju.

Ngeeengg.. bremmm… breemmmm… bajaj pun melaju membelah banjir dengan gagah berani. Di perempatan Susilo 3 kuintip trotoar masih tenggelam dan portal tertutup. Itu memang titik paling kritis. Lanjut… mestinya kami bisa masuk Susilo 5, tapi sayangnya pintu gerbang hanya terbuka setengah dan pos satpam kosong, sehingga kami gak bisa lewat. Susilo 6 juga sama, gerbang tertutup. Demikian juga akses dari Jalan Makaliwe.

Satu-satunya akses yang tersisa adalah dari belakang terminal. Tapi di situ banjirnya masih dalam. Nah, untunglah si Abang berani. Dan mungkin memang air sudah turun sedikit sejak satu setengah jam yang lalu. Betapa besar dampak dari selisih sekian centimeter saja. Di portal, kami sempat dicegat hansip dan “ditakut-takuti” bajaj bakal mogok seperti yang lain. Tapi seperti kukatakan, untung si Abang berani dan baik hati sehingga mau mengambil resiko mogok di tengah-tengah. Mungkin dia kasihan melihat wajahku yang memelas, hehe.

Singkat kata, dengan raungan mesinnya yang berusaha keras menghalau air supaya gak masuk knalpot, si BMW (bajaj merah warnanya) itu pun sampai dengan sukses di depan kosanku. HOREEE!!! Dan bagusnya, rupanya banjir tidak sempat masuk ke halaman kos. Berarti kamarku aman. :)

Terima kasih Abang Bajaj! Kaulah penyelamatku. Sekali lagi kaki mulusku terselamatkan. Halah! :P

(Grogol, 25 Oktober 2010 pukul 23:15)

*update menjelang tengah malam*

Barusan browsing-browsing, rupanya macet masih belum cair sampai sekarang, dan terjadi kecelakaan di berbagai titik. Beruntung aku sudah pulang. Jakarta, oh Jakarta…

Leave a Comment

Filed under Daily

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s