Berawal dari jualan kain batik Garutan, belakangan ini banyak sekali ide-ide berseliweran di benakku. Di antaranya menyediakan baju batik siap pakai. Yang paling simple tentunya kemeja pria, yang potongannya memang ga neko-neko.
So yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana menjahitnya. Aku maupun partnerku sama sekali ga bisa menjahit, dan ga punya penjahit langganan pula. Option pertama adalah order ke pemasok kain batik ybs, yang kebetulan juga menawarkan pilihan tsb. Jadi aku tinggal pilih kainnya dan minta dia yang menjahitkan dengan ongkos jahit hanya Rp 30.000,- per kemeja. Murah kan!
Namun berhubung si pemasok ada di luar kota, jadinya kurang praktis untuk customerku yang perlu diukur badannya, atau yang sudah beli kain duluan. Akan lebih mudah kalau aku punya penjahit andalan di sini, di wilayah sekitar tempatku beredar (baca: tinggal dan kerja). Maka mulailah aku berburu informasi….
Tempat bertanya nomor satu tentulah Om Google. Tapi sayang si Om ga begitu membantu kali ini. Jadi aku pun mengelilingi daerah ini secara manual (go show). Sekian lama tinggal di sini aku ga pernah memperhatikan di mana saja ada penjahit/tailor, hehehe. Ternyata ada cukup banyak.
Tapiiiii… hasilnya mengecilkan hati… Ongkos jahit termurah yang aku dapatkan adalah Rp 60 ribu, untuk menjahit kemeja pria tanpa vouring. Penjahit lain ada yang mematok tarif 65 ribu atau 75 ribu. Sedangkan untuk kemeja dengan vouring harganya mencapai 125 ribu. Mahal sekaliiiiiiiiiiiii…
Yang termurahnya saja sudah 2x lipat ongkos jahit pemasokku.
Bagaimana bisa begitu ya? Entah di sini yang kemahalan atau di sana yang kemurahan?
Sembari masih mencari alternatif lain, aku pun merenung lebih jauh. Di Tanah Abang atau pasar-pasar rakyat banyak dijual baju-baju batik (printing) dengan warna, model, dan motif yang semarak. Harganya? Kalau pintar menawar mungkin bisa dapat 30 ribu rupiah. Rata-ratanya mungkin 45 ribu. Ckckckck… kalau harga baju jadinya saja sudah segitu, berapa harga bahan bakunya? Dan berapa pula jasa si penjahit dihargai? Pasti di bawah 30 ribu ya. *thinking*
Pantas saja para pembatik tradisional (kain batik dengan teknik membatik menggunakan lilin dan canting atau cap) mengeluh bahwa mereka kesulitan bersaing dengan industri batik “gadungan” (kain tekstil biasa yang motifnya batik). Ini pun menjawab pertanyaanku, kenapa kok batik itu mahal. Cost dan effort yang dikeluarkan untuk membatik tidak bisa ditekan karena setiap karya belum tentu langsung laku. Jadi para pembatik harus menaikkan harga jual agar keuntungan yang didapat bisa mensubsidi kain-kain yang tidak terjual. Tapi di pasaran justru orang lebih memilih batik printing yang jauh lebih murah dibandingkan batik asli yang mahal. Well, akhirnya jadi lingkaran setan.
Padahal kalau mau, para investor dalam negeri yang punya modal besar bisa saja memproduksi batik dalam jumlah banyak (katakanlah batik cap agar bisa menghasilkan batik dengan lebih cepat dibandingkan batik tulis)… kemudian dijual dengan harga yang lebih murah (walaupun tidak semurah batik printing). Lha sekarang ini produsen batik yang modalnya gede malah harga batiknya gila-gilaan sampai jut-jut.
Didukung oleh kampanye batik yang gencar dari pemerintah pusat dan pemda, pengelolaan sentra-sentra batik di tiap daerah, pameran-pameran, dsb… mungkin saja perlahan-lahan masyarakat mulai terbangkitkan hasratnya untuk memiliki batik asli dalam negeri kalau harganya sudah lebih terjangkau.
Dan ketika menyukai batik sudah mendarah-daging (seperti merokok, bahkan orang yang duitnya pas-pasan lebih memilih beli rokok daripada beli makan), mudah-mudahan para pengrajin batik tidak lagi harus mematok harga tinggi untuk setiap karya yang dihasilkan.
Masa sih, batik yang katanya warisan asli budaya Indonesia ini, lebih banyak dimiliki oleh orang asing daripada warga negaranya sendiri, ‘hanya’ karena kita ga sanggup membelinya… (atau karena ga merasa perlu memilikinya? hayoooo.. kamu punya batik berapa setel? satu? tuh kan… hehehe).
Aku pun ingin juga bisa jualan dengan enak… dan ga sering-sering mendengar komentar, “Duhhh mahal amattt.. kemaren aku liat di pasar anu batik ginian cuma 40 ribu lho!”
Semoga…

tampaknya untuk menjadikan batik sebagai produk siap memang agak sulit. tetap dibutuhkan modal besar dan akhirnya memang hasilnya pun hanya bisa dibeli konsumen berdompet tebal. saya pernah coba menekuni ini, dari mengumpulkan kain hingga mencari penjahit. hasilnya jauh dari memuaskan
betul, ongkos jahit mahal. saya dapat justru 75 rb untuk model paling sederhana. ketika penggemar (motif) batik bisa mendapatkan produk murah meriah, kita yg mengaku pecinta batik setengah mati mempertahankan idealisme batik non printing..
sementara bicara dari sisi batiknya sendiri, kayanya jg agak sulit meminta produsen menurunkan harga mengingat proses tradisional yg tidak sederhana. sejauh ini yg banyak kita temui baru batik pekalongan yg produksi masal. cuma akhirnya buatku -pribadi- akhirnya tidak menarik.
susahnya lagi, tidak cukup banyak daerah yg melihat potensi dari bisnis batik ini. seperti di daerahku, produsen batik cuma satu keluarga. dan agak pesimis ketika generasi yg bkarya skrg ini ga ada, akan ada penggantinya.. maka hilanglah sang batik dari peredaran..
panjang amat yak komentarnya, hehe..
salam kenal