
Berbincang dengan seorang bapak pengusaha Batik Madura… aku bertambah pintar sedikit lagi….
Bapak yang tampangnya sedikit menyeramkan itu ternyata sangat murah hati berbagi informasi, dan senang bercerita pula rupanya.
Dari tuturnya aku jadi tau, bahwa bahan kain atau mori itu ada macam-macam. Katun, viscose, paris, doby, sutra, bahkan sifon. Katun pun ada berbagai kualitas lagi: katun Santio A, Santio B, katun Prima, katun Garuda, katun Primisima, dst…
Kuraba salah satu batik yang tergelar di lantai… Kalau ini bahan apa Pak?
- Ini Santio B. Sedikit kasar kan? Tapi coba raba yang ini, ini Santio B juga tapi lebih halus kan?
Wah, kok bisa?
- Nah itu ada triknya Bu. Jadi proses membatik itu persiapannya panjang, salah satunya bagaimana mempersiapkan mori. Ini bisa halus gini karena sudah direndam dengan campuran minyak tertentu. Jangan salah Bu, Ibu bisa terkecoh mengira ini kain Primisima padahal Santio B. Masing-masing kain punya konstruksinya sendiri….
Konstruksi maksudnya cara kain tsb dipintal ya Pak?
- Ya kira-kira begitu.. kerapatan dari benang-benangnya itu yang membuat konstruksi kainnya jadi lain. Makin rapat benangnya makin halus terasanya. Tapi seperti saya bilang tadi, itu juga ga menjamin, ya karena dengan teknik tadi itu konstruksi kain bisa berubah.
Kalau Santio dengan Prima itu bagusan mana?
- Kan tadi saya udah bilang, gak bisa dibandingkan gitu aja Bu, tergantung pengerjaannya. Cuma biasanya kain Prima itu dipakai oleh batik Solo, Pekalongan, Tasik. Klo Santio itu Madura…
Ohh iya sih Pak, kayaknya batik Garutan juga Prima ya…
Pelajaran kemudian berlanjut pada ke-khas-an warna tiap-tiap daerah. Batik Madura biasanya ngejreng2, lain dengan daerah Cirebon yang lebih soft. Tapi belakangan ini di Madura juga sedang trend warna soft, sehingga dibuatlah kain batik yang motifnya tetap khas Madura tapi warnanya soft seperti batik Cirebon.
Waktu berkisah tentang teknik pewarnaan, beliau sempat share bahwa kadar keasaman air yang dipergunakan pun bisa mempengaruhi warna batik yang dihasilkan. Beliau pernah mencoba memproduksi batik di Jakarta, namun ternyata hasilnya tidak sebagus batik yang beliau buat di Madura. Ternyata air di Madura sana punya kekhasan tersendiri yang tidak bisa ‘ditiru’ oleh air di Jakarta sini. Maka sampai sekarang, walaupun beliau berkantor dan punya toko di Jakarta, proses produksi tetap dilakukan di Pamekasan, Madura.
Beliau juga sedikit berpromosi bahwa dia tidak mempermainkan harga. Saya gak main harga motif Bu, saya gak jual design. Saya bukan designer, saya pedagang. Jadi batik yang motifnya bagus pun harganya sama aja. Saya ngitung harga berdasarkan bahan dan pekerjaan aja. Pekerjaan segini, bahannya ini, berarti harganya sekian. Kasian Bu pekerja saya. Ini *sembari menepuk-nepuk tumpukan batik* beban moral buat saya, kalau lama terjualnya berarti mereka kan juga tersendat nafkahnya.
Tak terasa sekian menit sudah berlalu, sambil ngobrol aku sambil menaksir beberapa batik yang aku suka. Ada satu jenis yang unik, yaitu motif remukan atau motif serat kayu. Motif ini dibuat dengan cara meremas-remas beberapa bagian kain yang sudah dilapisi malam (lilin untuk membatik) sehingga hadir celah yang bisa disusupi oleh zat pewarna ketika proses pencelupan. Celah-celah tipis itulah yang nantinya membentuk motif seperti goresan serat kayu.
Sembari menyimak, mataku tetap jelalatan… lalu tiba-tiba tertumbuk pada satu kain bermotif gradasi… atau lebih dikenal dengan istilah batik pelangi (tau kan iklan di TV yang mengisahkan jatuh bangunnya Mas Sobari, si penemu batik pelangi khas Pekalongan?). Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku bertanya bagaimana sih cara membuat batik seperti itu?
Hmmm.. jawaban si Bapak masih kurang memuaskan, mungkin karena dia pun bukan membuatnya sendiri. Dia hanya mengira-ngira saja bahwa prosesnya melibatkan pengecapan, penyablonan, dan pencoletan. Well, tak apa, berarti masih ada pe-er yang mesti kucari…
Menyenangkan berbincang langsung dengan pengusaha batik yang sudah turun-temurun berkecimpung di dunia itu, dunia yang belum sampai hitungan tahun aku akrabi namun sudah berhasil merangsang antusiasme yang lama terlena.
Pertemuan dengan si bapak pemilik lapak yang tak sengaja kusinggahi itu pun ditutup dengan satu tawaran menggiurkan… Silakan hubungi saya saja Bu, kalau Ibu nanti ingin memproduksi batik dengan design dan budget dari Ibu. Saya pasti bantu.
Wah! Terima kasih Pak. Yakinlah, saya akan menghubungi Bapak kalau saat itu datang nanti.
