
Bulan-bulan setelah Lebaran ini banyak ibu rumah tangga kelimpungan mencari pengganti pembantunya yang mudik (dan tak kembali bekerja). Saya sendiri beruntung belum harus berurusan dengan problematika domestik ini. Sebaliknya adik saya. Dia bisa dibilang minimal setahun sekali harus bergumul dengan masalah ini. Wew, cape ati ya pastinya.
Saya pun kecipratan tugas untuk ikut mencairkan, eh mencarikan. Yah minimal menyebar dan mencari informasi. Sejauh ini, walaupun sudah lebih dari satu kali siklus, saya belum pernah berhasil mendapatkan prospek. Entah mungkin sayanya kuper, atau apa… :p
Usaha dari mulut ke mulut yang saya upayakan adalah bertanya pada pembantu di kantor, satpam, pembantu di tempat saya tinggal, saudara ipar, mertua, bahkan sampai minta tolong ke mertuanya saudara ipar dan mertuanya teman kerja….. tapi belum ada titik cerah.
Saya pun mencoba mencari di Kaskus, yang katanya tempat jual beli favorit se-Indonesia (ya PRT kan jual jasa toh), ternyata pun minim sekali infonya. Tumben.
Resource terakhir, googling. Weladalah, malah nemu rentetan berita mengenai langkanya pembantu rumah tangga.
Banyak Pembantu Rumah Tangga Memilih Jadi TKI
Ibu Rumah Tangga Mengeluh Ditinggal Pembantu
Tenaga Pembantu Rumah Tangga Minim
Menyoal Pembantu Rumah Tangga Pasca Lebaran
Hmm, saya menarik beberapa kesimpulan:
1. Dengan adanya peluang kerja sebagai TKI atau buruh pabrik, para pekerja wanita mungkin tidak lagi suka ingin mau menjadi PRT.
2. Kalaupun ada pekerja wanita yang bersedia bekerja sebagai PRT, mungkin menganggap itu hanya sebagai batu loncatan sementara menunggu tawaran pekerjaan lain.
3. Pola pikir para PRT jaman sekarang (di Indonesia) sudah berubah, tidak lagi seperti jaman baheula yang manut banget pada majikan. Mereka sekarang “harga diri”-nya lebih tinggi. Penyebabnya beragam, dan salah satunya adalah kesadaran bahwa “majikan lebih butuh saya daripada saya butuh majikan”. Dan ini memang benar. Ibu-ibu rumah tangga-lah yang akan merasa lebih kewalahan kalau ditinggal pembantunya, sebab mencari penggantinya itu susah sekali. Sedangkan si pembantu, kalau dipecat pun masih banyak pilihan lain, kerja sbg PRT di tempat lain, kerja di pabrik, jadi TKI, jadi office girl , atau … nikah
.
Profesi PRT adalah profesi yang tidak populer, sehingga langka. Akibat langka, maka tingkat permintaan jauh lebih tinggi daripada penawaran/supply. Akibatnya, harga pun menjadi tinggi.
Kalau benar sesuai dengan kesimpulan di atas, perkara gaji tentu akan menjadi faktor yang penting. Barangkali sekarang memang tidak jamannya lagi menawarkan gaji 300 ribu/bulan. Beberapa yayasan sudah mematok minimal 550 ribu. So, mau tidak mau para majikan harus rela untuk mengiming-imingi gaji yang cukup tinggi agar pembantunya betah (atau at least pikir berkali-kali kalau mau keluar: kalaupun dapat pekerjaan lain, belum tentu gajinya setinggi di Ibu Anu).
Sebagai perbandingan, UMR 2011 di Bandung berkisar Rp 1.188.435,-. Sedangkan Jakarta sekitar Rp 1.290.000,-.
Di sisi lain, mesti dipikirkan juga bagaimana caranya agar profesi PRT ini diminati. Tujuannya meningkatkan daya saing profesi ini dengan profesi lain sehingga mantra di atas bisa punah (dan pada akhirnya harga kembali turun). Kalau kita coba gali, apa sih yang membuat mereka lebih memilih bekerja di pabrik daripada di rumah? Apakah karena jam kerjanya lebih teratur? Dapat istirahat? Job description yang lebih jelas? Ada lembur? Ada kesempatan untuk naik pangkat? Ada pesangon? Dapat tunjangan lain di samping gaji? Dapat hak cuti? Relatif bebas bersosialiasi?
Aspek di atas perlu tetap dicari solusinya, sebab kalau tidak, walaupun sang majikan bersedia menggaji tinggi, tetap saja prestise PRT masih kalah dibandingkan profesi lain, yang berarti kelangkaan tenaga kerja masih tetap menjadi kendala. Sebagai substitusi dari daya tarik kerja di pabrik tadi, bagaimana kalau majikan menawarkan utang lunak untuk mencicil rumah? Menyekolahkan anaknya atau memberi beasiswa?
“Lha kalau PRT digitukan apa bedanya dengan karyawan biasa?”
Mungkin memang gak beda. Mungkin memang seharusnya demikian. Di luar negeri, dengar-dengar jasa pembantu rumah tangga itu mahal, makanya jarang orang pake pembantu. Di Indonesia saja yang murah. Kenapa bisa begitu, mungkin karena warisan jaman kolonial dulu, dengan konsep ‘nyonya-babu’ di mana majikan berkedudukan tinggi sekali sedangkan si babu rendah sekali.
….
Tunggu, tunggu…. Sampai di sini saya ingin merenung dulu….
Saya perlu membayangkan bagaimana kalau saya harus menggaji PRT satu juta rupiah.
Apakah saya rela?
Apakah saya MAMPU?
Apakah ekspektasi saya menjadi bertambah?
Apakah saya siap kalau setelah saya menggaji sekian tinggi, PRT tetap keluar-masuk?
….
……
………
Well, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kalau dijadikan bahan diskusi, pasti panjang. Tapi setidaknya ada 1 aspek yang bisa dicoba diubah yaitu gaji tadi. Coba tawarkan gaji yang lebih tinggi daripada orang lain. Karena kenyataannya memang saat ini harga PRT sedang tinggi. Waktu harga cabe gila-gilaan, toh kita juga tetap saja beli cabe, walaupun sambil ngomel, karena kita memang gak bisa makan kalau gak nyambel.
Yang jelas, saya bersyukur belum harus menghadapi problem di atas. Kalau boleh meminta sih, semoga saya tidak sampai harus tergantung pada jasa pembantu.
