<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rorompok Simkuring</title>
	<atom:link href="http://garutbersemi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://garutbersemi.wordpress.com</link>
	<description>Home Sweet Home</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Dec 2011 03:06:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='garutbersemi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rorompok Simkuring</title>
		<link>http://garutbersemi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://garutbersemi.wordpress.com/osd.xml" title="Rorompok Simkuring" />
	<atom:link rel='hub' href='http://garutbersemi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Can You Swim?</title>
		<link>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/26/can-you-swim/</link>
		<comments>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/26/can-you-swim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 10:48:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simkuring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Action]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/26/can-you-swim/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seventy-five percent of our planet is water &#8211; can you swim?&#8221; &#8220;The water is your friend&#8230; you don&#8217;t have to fight with water, just share the same spirit as the water, and it will help you move.&#8221; (Alexandr Popov) Selama &#8230; <a href="http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/26/can-you-swim/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=276&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>&#8220;Seventy-five percent of our planet is water &#8211; can you swim?&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;The water is your friend&#8230; you don&#8217;t have to fight with water, just share the same spirit as the water, and it will help you move.&#8221;</strong></em> (Alexandr Popov)</p>
<p><img style="width:250px;height:218px;" height="218" alt="can-you-swim" hspace="10" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/can-you-swim.jpg?w=250&#038;h=218" width="250" align="left" vspace="8" border="0" />Selama tiga puluh tujuh tahun, hubungan saya dengan air adalah seperti hubungan benci tapi rindu. Saya sebetulnya suka &#8220;berenang&#8221; (maksud saya dengan &#8220;berenang&#8221; adalah kegiatan masuk ke dalam kolam, bermain air, berendam, dll, dengan syarat selama kaki saya masih menginjak dasar kolam dan kepala saya berada di atas air), namun saya tidak bisa berenang (mengapung, mengambang, kepala di dalam air, mengayuh dengan kaki dan tangan untuk maju).</p>
<p>Saya tidak fobia air&#8230;</p>
<p>&#8230; kecuali kalau kepala saya berada di dalam air. Karena alasan tertentu, saya panik ketika merasakan hidung saya tidak bisa bernapas di dalam air. Padahal kalau menahan napas di udara biasa, saya sanggup menahannya hampir 1 menit. Gara-gara kepanikan ini, saya pernah batal menyelam, padahal saya sudah nyemplung di laut lengkap dengan peralatan selam. Di detik ketika saya hendak mencelupkan kepala, saya tidak berani.</p>
<p>Jadi saya mengira seumur hidup saya tidak akan bisa berenang, dan saya cukup puas &#8220;berenang&#8221; saja, pakai baju pelampung atau sekedar bermain-main di kolam dangkal.</p>
<p>Betapa bahagianya saya, ketika kemarin, 25 September 2011, untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa saya BISA berenang! Wooooooo&#8230;!! Rasanya menakjubkan!</p>
<p>Saya mengikuti les renang. Di pertemuan pertama, saya masih belum berani &#8220;menenggelamkan kepala&#8221;. Air masih menakutkan bagi saya, walaupun guru saya berulang kali mengatakan, &#8220;Jangan takut air, jangan takut air!&#8221;. Setiap progress yang saya capai selalu berantakan setiap kali saya mengalami serangan panik gara-gara gelagapan untuk bernapas.</p>
<p>Di pertemuan kedua, Mbak Dinar, guru renang saya, bertanya, &#8220;Memangnya apa yang ditakutin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Takut gak bisa napas Mbak!&#8221;</p>
<p>Mendengar jawaban saya, dia langsung melatih saya menahan napas di dalam air. Kita hitung 5 dulu ya&#8230; ambil napas lewat mulut, haaaaaaapp&#8230; tahan&#8230; yak celupkan wajah&#8230; satu.. dua.. tiga.. empat.. lima, cukup!</p>
<p>Mengingat lagi latihan kemarin, saya ingat saya tetap merasa <em>insecure</em> ketika udara yang biasanya saya hirup berganti dengan zat cair yang memblokir indra penciuman dan mengepung seluruh wajah saya. Tapi lumayan, saya tidak panik sampai gelagapan.</p>
<p>Kemudian saya mencoba lagi, kali ini 6 hitungan&#8230; satu&#8230; dua&#8230; tiga&#8230; empat&#8230; lima&#8230; enam. Berhasil!</p>
<p>Tujuh hitungan&#8230; delapan hitungan&#8230; sembilan.. sepuluh.. sebelas&#8230; sampai terakhir mencapai 16 hitungan.</p>
<p>Prosesnya pelan. Terkadang saya terbatuk-batuk meminum air karena terlalu tergesa menarik napas waktu mengangkat kepala. Tapi akhirnya saya sudah percaya bahwa minimal saya sanggup bertahan 10 detik, meskipun rasa <em>insecure</em> itu masih saja ada. Memang tidak mungkin dalam seketika saya menjadi bersahabat dengan air, tapi proses adaptasi sudah dimulai.</p>
<p>Setelah merasa sanggup menahan napas, saya mulai latihan mengapung dengan kepala dicelupkan. Dengan tangan tetap berpegangan di pinggir kolam, saya perlahan membiarkan badan mengapung sambil menggerak-gerakkan kaki. Guru saya bilang, nanti waktu meluncur kaki harus digerakkan agar bisa maju.</p>
<p>Dengan terbata-bata saya ulangi proses di atas, terbatuk-batuk, terengah-engah, tersedak, namun harus terus dilakukan sampai rasa percaya diri saya perlahan muncul. Di satu titik, saya sudah bisa mengapungkan hampir seluruh tubuh, dengan hanya bertopang pada kekuatan jari tangan. Tentunya dengan menahan napas di dalam air, kurang lebih 5 &#8211; 9 detik.</p>
<p>Setelah tidak terlalu takut, saya mencoba menggunakan pelampung. Saya test dulu kekuatan apung benda itu dengan cara meloncat-loncat sambil jongkok di air. Setelah yakin benda tsb mampu mencelatkan kembali gaya tekan saya, saya pun mencoba meluncurkan diri menggunakan pelampung.</p>
<p>Percobaan pertama tidak langsung berhasil. Hanya beberapa detik saya sudah ingin bernapas, padahal saya belum mencapai ujung kolam. Walhasil saya tersedak-sedak karena gelagapan ingin timbul ke permukaan seketika. Rupanya kesalahan saya adalah lupa menggerakkan kaki sehingga saya tidak maju, sedangkan detik terus berjalan.</p>
<p>Kali kedua saya coba, masih juga demikian. Susahnya mengkoordinasikan gerakan kaki dengan hitungan menahan napas. Saking konsentrasi ke hitungan, kaki terlupakan. Maka saya kembali ke sudut tempat saya latihan pertama. Mulai lagi dari awal, dengan berpegangan di pinggir, latihan menggerakkan kaki sampai bisa mengapungkan badan.</p>
<p>Tanpa saya sadari, pengulangan-pengulangan itu membuat tubuh dan pikiran saya makin beradaptasi dengan air. Entah kapan, kadar ketakutan saya berkurang. Selain itu, Mbak Dinar menawarkan saya untuk memakai kacamata renangnya. Wah, ternyata sangat besar perbedaannya antara memejamkan dengan membuka mata. Dengan kembalinya indera penglihatan saya, benak saya bisa memberi tahu saya bahwa kolam ini dangkal dan ujung kolam di sana hampir saya capai, sehingga tidak lagi menakutkan walaupun selama beberapa detik kepala saya berada di dalam air.</p>
<p>Walhasil setelah 1 jam lebih berlatih, akhirnya saya berhasil meluncur untuk pertama kalinya menggunakan pelampung! Merasa percaya diri, tidak lama kemudian saya mampu meluncur tanpa pelampung, walaupun tetap harus ditunggui seseorang di ujung sana agar saya yakin bahwa saya pasti dibantu kalau saya mengalami kesulitan.</p>
<p>Dan rupanya di situlah titik baliknya. Ketika saya tahu saya bisa meluncur dan maju sendiri tanpa dibantu alat apapun, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya berani meluncur dan berenang sendiri! Kali ini tidak perlu ditunggui di ujung sana.</p>
<p><em>Waaahhh!! Rasanya luaaaaaarrr biasa!!</em> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ingin rasanya berteriak dan bercerita pada semua orang, SAYA BISA MENGAMBANG! SAYA BISA BERENANG!</p>
<p>Aaahh bahkan saat ini pun saya masih merasakan eforianya. Bayangkan! Saya! Saya, gitu! Bisa ngapung! Gak takut lagi dengan air! Wawaawawawaawww&#8230;.</p>
<p>Memang belum jauh jarak yang saya tempuh. Kalau dihitung, paling jauh hanya 9 detik kalau ditempuh dengan mengayuhkan kaki. Mungkin sekitar 2 meter kurang. Tapi bagi saya, itu prestasi yang BESAR!! Ditambah lagi, saya baru tau, ternyata tanpa menggerakkan kaki pun, selama masih menahan napas, saya tetap mengapung dan maju! Wow, <em>amazing</em>.</p>
<p>Tidak sabar rasanya menunggu sesi berikutnya minggu depan. Setelah bisa meluncur dengan gaya bebas dan menahan napas, Mbak Dinar akan mengajari saya berenang gaya dada. Menurut dia, dengan gaya dada kita lebih mudah menarik kepala keluar untuk menghirup napas sebab ada daya dorong ke atas dari kombinasi gerakan tangan dan kaki.</p>
<p><em>Thanks God, thanks a lot for this great experience!</em> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebagai sekedar catatan, berikut ini tahap-tahap yang menurut saya membantu keberhasilan saya:</p>
<p><strong>1. Latihan menahan napas di dalam air.<br /></strong><img height="145" alt="posisi-wajah" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/posisi-wajah-1.jpg?w=184&#038;h=145" width="184" align="right" />Tarik napas dalam-dalam lewat mulut, lalu celupkan wajah di air. Tidak perlu seluruh kepala, cukup wajah saja, seperti kalau kita mau mengaca di air. Peganglah besi atau pinggiran kolam, agar bisa mengontrol sendiri kapan ingin keluar untuk bernapas dan agar kita yakin kita tidak mungkin tenggelam. Segera mulai berhitung. Mulai dengan 5 hitungan dulu. Kemudian bertahap ditambah 1, kemudian tambah 2, kemudian 3, dst. Latihan ini bagi saya bermanfaat untuk memerangi rasa panik karena ketakutan tidak bisa bernapas. Selain itu, juga membantu bersahabat dengan lingkungan yang asing di mana hidung saya &#8220;terkepung air&#8221;.</p>
<p><strong>2. Latihan mengatur napas.<br /></strong>Napas harus <u>ditarik dari mulut</u>, <u>dibuang lewat hidung</u>. Ini harus dibiasakan agar menggantikan refleks kita yang menarik dan membuang napas dengan hidung. Ini juga latihan mengembangkan paru-paru. Napas yang teratur juga bermanfaat untuk mengurangi rasa takut dan me-rileks-kan diri. Pengalaman saya, karena takut maka napas saya jadi pendek-pendek, sehingga langsung merasa kehabisan napas di dalam air, dan menganggap tekanan air di dada saya sebagai &#8220;serangan&#8221;.<br />
Tips: setiap kali beristirahat, praktekkan teknik napas ini sebanyak 5 kali dengan menarik napas di udara lalu membuangnya di dalam air. <em>*ya, kamu harus menenggelamkan kepalamu*</em></p>
<p><strong>3. Latihan mengambangkan tubuh.<br /></strong>Cobalah untuk mengapungkan diri secara bertahap. Mula-mula berpeganganlah di pinggir kolam dengan posisi kedua telapak tangan sampai siku rapat di dinding kolam. Jadi yang harus mengapung cukup dari dada sampai kaki, sedangkan berat tubuh ditumpukan semua di tangan dan lengan. Nanti secara bertahap kurangi tumpuan di tangan (sehingga siku tidak lagi rapat di dinding kolam, melainkan hanya pergelangan tangan saja), kurangi terus sampai akhirnya hanya jari-jemari saja yang menyentuh dinding. Tidak masalah walaupun hanya bisa mengapung 1 atau 2 detik. Manfaat dari latihan ini bagi saya adalah membuat saya percaya bahwa tubuh saya sebetulnya punya daya apung.</p>
<p><strong>4. Latihan menggerakkan kaki.<br /></strong>Dengan posisi nomor 3, gerak-gerakkan kaki untuk mempertahankan tubuh tetap mengambang. Sejujurnya saya tidak tahu persis gerakan seperti apa yang benar. Saya hanya diinstruksikan untuk menepuk-nepuk air kuat-kuat dengan cara menggerakkan kaki dari lutut sampai pergelangan kaki secara bergantian kiri dan kanan. Pengalaman saya, hal ini tidak mudah. Rasanya pegal, sehingga tidak lama gerakan saya tidak lagi seirama. Kadang kaki kiri bergerak, tapi kaki kanan tidak. Kadang gerakannya lemah tanpa tenaga sehingga tidak ada daya angkat. Kadang malah lupa bergerak sama sekali. Jadi latihan ini memakan cukup banyak waktu bagi saya, sampai saya mencapai titik di mana tidak perlu lagi berpikir untuk menggerakkan kaki.</p>
<p><strong>5. Menggabungkan latihan 1, 3, dan 4.<br /></strong>Dengan mencelupkan wajah di air, tumpuan di jari bisa minimal, sehingga tubuh lebih mudah mengapung. Dibantu dengan gerakan kaki, hasilnya saya mengapung lebih lama. Mula-mula saya masih bertumpu di siku sambil mengapungkan tubuh, lalu mengurangi tumpuan sampai hanya di jari-jari saja, dan ketika saatnya sudah tepat, saya menarik napas dalam-dalam lewat mulut, mencelupkan wajah, dan mulai menghitung 1 sampai 5. Di latihan ini, seluruh tubuh saya dari lengan (posisi di atas kepala), kepala, sampai ujung kaki, sudah tercelup seluruhnya di permukaan air. Yang perlu dilatih adalah gerakan kaki untuk mempertahankan posisi tsb selama mungkin.<br />
Seperti latihan yang lainnya, saya juga tidak langsung bisa. Kendalanya adalah koordinasi. Waktu saya konsentrasi di menahan napas, saya lupa menggerakkan kaki. Sebaliknya waktu saya konsentrasi di kaki, saya melupakan kepercayaan diri bahwa saya sanggup menahan napas, sehingga akibat buru-buru menarik napas, saya tersedak. <em>Well</em>, intinya latihan koordinasi.</p>
<p><strong>6. Latihan mempercayai pelampung.<br /></strong><img height="152" alt="papan-pelampung" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/papan-pelampung-1.jpg?w=225&#038;h=152" width="225" align="right" />Maksud saya papan pelampung ya (yang bentuknya persegi itu), bukan baju pelampung, juga bukan pelampung yang dipasang di lengan.<br />
Saya pribadi lebih percaya pada pelampung daripada orang, karena dengan memegang pelampung, kontrol ada di saya. Kalau berpegangan pada orang lain, selalu saja mereka berusaha melepaskan diri dari saya (tujuannya sih baik, yaitu untuk melatih kita agar bisa sendiri). Padahal belum tentu saya siap dilepaskan. Intinya saya harus dibiarkan menemukan irama saya sendiri. Jadi dengan pelampung yang bisa saya pegang di tangan, saya siap belajar meluncur. Untuk itu saya harus mengetes dulu dengan cara mengalami sendiri apa yang terjadi kalau saya membebankan berat tubuh saya di pelampung tsb. Saya menyarankan hal yang sama pada kalian. Cobalah sendiri, raih pelampung, gunakan untuk bertopang, sampai kalian mengetahui <em>selahnya</em>. Belajarlah juga untuk bangun (dari posisi mengapung telungkup menjadi tegak) dengan memanfaatkan pelampung sebagai tumpuan. Harusnya kita berdiri dengan tenang, tidak terburu-buru, agar tidak menelan atau tersedak air.</p>
<p><strong>7. Miliki dan gunakan kacamata renang.</strong><br />
<em>Trust me. It helps a lot.</em> Dengan mengenakan <em>goggle</em>, ketakutan saya jauh berkurang karena saya jadi bisa MELIHAT lingkungan yang saya masuki, bukan hanya MERASAKAN. Selain itu, indera penglihatan yang aktif membuat saya punya pengalih perhatian sehingga tidak melulu terfokus pada &#8220;saya sedang tidak bisa bernapas&#8221;. Waktu itu otomatis benak saya berpikir, &#8220;Wah ternyata airnya bening kehijauan, dan ada partikel-partikel halus seperti debu. Oh di bawah situ ada lantai. Wah ternyata dinding kolamnya kotak-kotak berwarna putih. Oh ternyata garis-garis kotaknya agak kotor. Nah itu dia ujung kolamnya.&#8221; Tau-tau sudah sampai di ujung kolam.</p>
<p><img height="193" alt="goggle" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/goggle-1.jpg?w=285&#038;h=193" width="285" /></p>
<p><strong>8. Latihan meluncur dengan pelampung.</strong><br />
Mulanya gunakan pelampung dulu, dan tidak perlu bernapas. Tahan napas saja. Konsentrasi pada gerakan kaki agar bisa maju. Untuk mendongkrak kepercayaan diri, minta seseorang menjagamu di ujung satunya.<br />
Tips: Perhatikan posisi awal untuk meluncur. Posisikan SELURUH TUBUH di dalam air sampai sebatas leher. Kalau kolamnya dangkal (misalnya hanya mencapai perut), kamu harus berjongkok agar posisi wajahmu sedekat mungkin dengan permukaan air. Dengan begitu, kamu punya kesempatan untuk mengambangkan seluruh tubuh SEBELUM meluncur. Baru setelah merasakan seluruh tubuh mengambang, tendang dinding kolam dan meluncurlah. Bagi saya, sensasinya selangit(!) waktu pertama kalinya tubuh ini meluncur dan mengambang sepenuhnya, tanpa bobot.</p>
<p><img height="195" alt="meluncur" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/meluncur.jpg?w=282&#038;h=195" width="282" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kira-kira begitulah pengalaman saya di 2 sesi les renang kemarin. Senaaaang sekali. Kalau kata Syahrini, &#8220;Sesuatu banget! Alhamdulilah yaa&#8230;.&#8221; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya yakin, tidak lama lagi saya akan bisa berenang &#8220;beneran&#8221; seperti ilustrasi di bawah ini. Amiiinnn..<br />
<img height="380" alt="swimming" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/swimming.jpg?w=385&#038;h=380" width="385" /></p>
<br />Filed under: <a href='http://garutbersemi.wordpress.com/category/action/'>Action</a>, <a href='http://garutbersemi.wordpress.com/category/learning/'>Learning</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garutbersemi.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garutbersemi.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garutbersemi.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garutbersemi.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garutbersemi.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garutbersemi.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garutbersemi.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garutbersemi.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garutbersemi.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garutbersemi.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garutbersemi.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garutbersemi.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garutbersemi.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garutbersemi.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=276&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/26/can-you-swim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/816141d39600f0d585f401ccca673bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">simkuring</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/can-you-swim.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">can-you-swim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/posisi-wajah-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">posisi-wajah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/papan-pelampung-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">papan-pelampung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/goggle-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">goggle</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/meluncur.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">meluncur</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/swimming.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">swimming</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tenaga Pembantu Rumah Tangga Semakin Sulit Dicari</title>
		<link>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/15/tenaga-pembantu-rumah-tangga-semakin-sulit-dicari/</link>
		<comments>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/15/tenaga-pembantu-rumah-tangga-semakin-sulit-dicari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 09:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simkuring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/15/tenaga-pembantu-rumah-tangga-semakin-sulit-dicari/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan-bulan setelah Lebaran ini banyak ibu rumah tangga kelimpungan mencari pengganti pembantunya yang mudik (dan tak kembali bekerja). Saya sendiri beruntung belum harus berurusan dengan problematika domestik ini. Sebaliknya adik saya. Dia bisa dibilang minimal setahun sekali harus bergumul dengan &#8230; <a href="http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/15/tenaga-pembantu-rumah-tangga-semakin-sulit-dicari/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=265&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img height="356" alt="pembantu-rumah-tangga" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/pembantu-rumah-tangga.jpg?w=357&#038;h=356" width="357" /></p>
<p>Bulan-bulan setelah Lebaran ini banyak ibu rumah tangga kelimpungan mencari pengganti pembantunya yang mudik (dan tak kembali bekerja). Saya sendiri beruntung belum harus berurusan dengan problematika domestik ini. Sebaliknya adik saya. Dia bisa dibilang <u>minimal</u> setahun sekali harus bergumul dengan masalah ini. Wew, <em>cape ati</em> ya pastinya.</p>
<p>Saya pun kecipratan tugas untuk ikut mencairkan, eh mencarikan. Yah minimal menyebar dan mencari informasi. Sejauh ini, walaupun sudah lebih dari satu kali siklus, saya belum pernah berhasil mendapatkan prospek. Entah mungkin sayanya kuper, atau apa&#8230; :p</p>
<p>Usaha dari mulut ke mulut yang saya upayakan adalah bertanya pada pembantu di kantor, satpam, pembantu di tempat saya tinggal, saudara ipar, mertua, bahkan sampai minta tolong ke mertuanya saudara ipar dan mertuanya teman kerja&#8230;.. tapi belum ada titik cerah.</p>
<p>Saya pun mencoba mencari di Kaskus, yang katanya tempat jual beli favorit se-Indonesia (ya PRT kan jual jasa toh), ternyata pun minim sekali infonya. Tumben.</p>
<p>Resource terakhir, googling. <em>Weladalah</em>, malah nemu rentetan berita mengenai langkanya pembantu rumah tangga.</p>
<p><a href="http://www.inilahjabar.com/read/detail/1772036/banyak-pembantu-rumah-tangga-memilih-jadi-tki" target="_blank">Banyak Pembantu Rumah Tangga Memilih Jadi TKI</a><br />
<a href="http://metrotvnews.com/read/news/2011/09/05/63743/Ibu-Rumah-Tangga-Mengeluh-Ditinggal-Pembantu" target="_blank">Ibu Rumah Tangga Mengeluh Ditinggal Pembantu</a><br />
<a href="http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/73002/Tenaga-Pembantu-Rumah-Tangga-Minim" target="_blank">Tenaga Pembantu Rumah Tangga Minim</a><br />
<a href="http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/08/19/menyoal-pembantu-rumah-tangga-pasca-lebaran/" target="_blank">Menyoal Pembantu Rumah Tangga Pasca Lebaran</a></p>
<p>Hmm, saya menarik beberapa kesimpulan:</p>
<p>1. Dengan adanya peluang kerja sebagai TKI atau buruh pabrik, para pekerja wanita mungkin tidak lagi <del>suka</del> <del>ingin</del> mau menjadi PRT.</p>
<p>2. Kalaupun ada pekerja wanita yang bersedia bekerja sebagai PRT, mungkin menganggap itu hanya sebagai batu loncatan sementara menunggu tawaran pekerjaan lain.</p>
<p>3. Pola pikir para PRT jaman sekarang (di Indonesia) sudah berubah, tidak lagi seperti jaman baheula yang <em>manut</em> banget pada majikan. Mereka sekarang &#8220;harga diri&#8221;-nya lebih tinggi. Penyebabnya beragam, dan salah satunya adalah kesadaran bahwa &#8220;majikan lebih butuh saya daripada saya butuh majikan&#8221;. Dan ini memang benar. Ibu-ibu rumah tangga-lah yang akan merasa lebih kewalahan kalau ditinggal pembantunya, sebab mencari penggantinya itu susah sekali. Sedangkan si pembantu, kalau dipecat pun masih banyak pilihan lain, kerja sbg PRT di tempat lain, kerja di pabrik, jadi TKI, jadi <em>office girl</em> , atau &#8230; nikah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .</p>
<blockquote>
<p><strong>Profesi PRT adalah profesi yang tidak populer, sehingga langka. Akibat langka, maka tingkat permintaan jauh lebih tinggi daripada penawaran/supply. Akibatnya, harga pun menjadi tinggi.</strong></p>
</blockquote>
<p>Kalau benar sesuai dengan kesimpulan di atas, perkara gaji tentu akan menjadi faktor yang penting. Barangkali sekarang memang tidak jamannya lagi menawarkan gaji 300 ribu/bulan. Beberapa yayasan sudah mematok minimal 550 ribu. So, mau tidak mau para majikan harus rela untuk mengiming-imingi gaji yang cukup tinggi agar pembantunya betah (atau <em>at least</em> pikir berkali-kali kalau mau keluar: kalaupun dapat pekerjaan lain, belum tentu gajinya setinggi di Ibu Anu).</p>
<p>Sebagai perbandingan, <a href="http://allows.wordpress.com/2009/01/12/informasi-upah-minimum-regional-umr/">UMR 2011</a> di Bandung berkisar Rp 1.188.435,-. Sedangkan Jakarta sekitar Rp 1.290.000,-.</p>
<p>Di sisi lain, mesti dipikirkan juga bagaimana caranya agar profesi PRT ini diminati. Tujuannya meningkatkan daya saing profesi ini dengan profesi lain sehingga mantra di atas bisa punah (dan pada akhirnya harga kembali turun). Kalau kita coba gali, apa sih yang membuat mereka lebih memilih bekerja di pabrik daripada di rumah? Apakah karena jam kerjanya lebih teratur? Dapat istirahat? Job description yang lebih jelas? Ada lembur? Ada kesempatan untuk naik pangkat? Ada pesangon? Dapat tunjangan lain di samping gaji? Dapat hak cuti? Relatif bebas bersosialiasi?</p>
<p>Aspek di atas perlu tetap dicari solusinya, sebab kalau tidak, walaupun sang majikan bersedia menggaji tinggi, tetap saja prestise PRT masih kalah dibandingkan profesi lain, yang berarti kelangkaan tenaga kerja masih tetap menjadi kendala. Sebagai substitusi dari daya tarik kerja di pabrik tadi, bagaimana kalau majikan menawarkan utang lunak untuk mencicil rumah? Menyekolahkan anaknya atau memberi beasiswa?</p>
<p><em>&#8220;Lha kalau PRT digitukan apa bedanya dengan karyawan biasa?&#8221;</em></p>
<p>Mungkin memang gak beda. Mungkin memang seharusnya demikian. Di luar negeri, dengar-dengar jasa pembantu rumah tangga itu mahal, makanya jarang orang pake pembantu. Di Indonesia saja yang murah. Kenapa bisa begitu, mungkin karena warisan jaman kolonial dulu, dengan konsep &#8216;nyonya-babu&#8217; di mana majikan berkedudukan tinggi sekali sedangkan si babu rendah sekali.</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>Tunggu, tunggu&#8230;. Sampai di sini saya ingin merenung dulu&#8230;.</p>
<p>Saya perlu membayangkan bagaimana kalau saya harus menggaji PRT satu juta rupiah.</p>
<p>Apakah saya rela?</p>
<p>Apakah saya MAMPU?</p>
<p>Apakah ekspektasi saya menjadi bertambah?</p>
<p>Apakah saya siap kalau setelah saya menggaji sekian tinggi, PRT tetap keluar-masuk?</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Well, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kalau dijadikan bahan diskusi, pasti panjang. Tapi setidaknya ada 1 aspek yang bisa dicoba diubah yaitu gaji tadi. Coba tawarkan gaji yang lebih tinggi daripada orang lain. Karena kenyataannya memang saat ini harga PRT sedang tinggi. Waktu harga cabe gila-gilaan, toh kita juga tetap saja beli cabe, walaupun sambil ngomel, karena kita memang gak bisa makan kalau gak nyambel. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Yang jelas, saya bersyukur belum harus menghadapi problem di atas. Kalau boleh meminta sih, semoga saya tidak sampai harus tergantung pada jasa pembantu. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />Filed under: <a href='http://garutbersemi.wordpress.com/category/menulis/'>Writing</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garutbersemi.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garutbersemi.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garutbersemi.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garutbersemi.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garutbersemi.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garutbersemi.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garutbersemi.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garutbersemi.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garutbersemi.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garutbersemi.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garutbersemi.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garutbersemi.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garutbersemi.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garutbersemi.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=265&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/09/15/tenaga-pembantu-rumah-tangga-semakin-sulit-dicari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/816141d39600f0d585f401ccca673bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">simkuring</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/09/pembantu-rumah-tangga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pembantu-rumah-tangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi Itu&#8230;.</title>
		<link>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/14/mimpi-itu/</link>
		<comments>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/14/mimpi-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 11:07:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simkuring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dreaming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/14/mimpi-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Berbincang dengan seorang bapak pengusaha Batik Madura&#8230; aku bertambah pintar sedikit lagi&#8230;. Bapak yang tampangnya sedikit menyeramkan itu ternyata sangat murah hati berbagi informasi, dan senang bercerita pula rupanya. Dari tuturnya aku jadi tau, bahwa bahan kain atau mori itu &#8230; <a href="http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/14/mimpi-itu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=255&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img height="338" alt="butik-batik" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/06/butik-batik.jpg?w=450&#038;h=338" width="450" /></p>
<p>Berbincang dengan seorang bapak pengusaha Batik Madura&#8230; aku bertambah pintar sedikit lagi&#8230;. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bapak yang tampangnya sedikit menyeramkan itu ternyata sangat murah hati berbagi informasi, dan senang bercerita pula rupanya.</p>
<p>Dari tuturnya aku jadi tau, bahwa bahan kain atau mori itu ada macam-macam. Katun, viscose, paris, doby, sutra, bahkan sifon. Katun pun ada berbagai kualitas lagi: katun Santio A, Santio B, katun Prima, katun Garuda, katun Primisima, dst&#8230;</p>
<p>Kuraba salah satu batik yang tergelar di lantai&#8230; <em>Kalau ini bahan apa Pak?</em></p>
<p>- <em>Ini Santio B. Sedikit kasar kan? Tapi coba raba yang ini, ini Santio B juga tapi lebih halus kan?</em></p>
<p><em>Wah, kok bisa?</em></p>
<p><em>- Nah itu ada triknya Bu. Jadi proses membatik itu persiapannya panjang, salah satunya bagaimana mempersiapkan mori. Ini bisa halus gini karena sudah direndam dengan campuran minyak tertentu. Jangan salah Bu, Ibu bisa terkecoh mengira ini kain Primisima padahal Santio B. M</em><em>asing-masing kain punya konstruksinya sendiri&#8230;.</em></p>
<p><em>Konstruksi maksudnya cara kain tsb dipintal ya Pak?</em></p>
<p><em>- Ya kira-kira begitu.. kerapatan dari benang-benangnya itu yang membuat konstruksi kainnya jadi lain. Makin rapat benangnya makin halus terasanya. Tapi seperti saya bilang tadi, itu juga ga menjamin, ya karena dengan teknik tadi itu konstruksi kain bisa berubah.</em></p>
<p><em>Kalau Santio dengan Prima itu bagusan mana?</em></p>
<p><em>- Kan tadi saya udah bilang, gak bisa dibandingkan gitu aja Bu, tergantung pengerjaannya. Cuma biasanya kain Prima itu dipakai oleh batik Solo, Pekalongan, Tasik. Klo Santio itu Madura&#8230;</em></p>
<p><em>Ohh iya sih Pak, kayaknya batik Garutan juga Prima ya&#8230;</em></p>
<p>Pelajaran kemudian berlanjut pada ke-khas-an warna tiap-tiap daerah. Batik Madura biasanya ngejreng2, lain dengan daerah Cirebon yang lebih soft. Tapi belakangan ini di Madura juga sedang trend warna soft, sehingga dibuatlah kain batik yang motifnya tetap khas Madura tapi warnanya soft seperti batik Cirebon.</p>
<p>Waktu berkisah tentang teknik pewarnaan, beliau sempat share bahwa kadar keasaman air yang dipergunakan pun bisa mempengaruhi warna batik yang dihasilkan. Beliau pernah mencoba memproduksi batik di Jakarta, namun ternyata hasilnya tidak sebagus batik yang beliau buat di Madura. Ternyata air di Madura sana punya kekhasan tersendiri yang tidak bisa &#8216;ditiru&#8217; oleh air di Jakarta sini. Maka sampai sekarang, walaupun beliau berkantor dan punya toko di Jakarta, proses produksi tetap dilakukan di Pamekasan, Madura.</p>
<p>Beliau juga sedikit berpromosi bahwa dia tidak mempermainkan harga. <em>Saya gak main harga motif Bu, saya gak jual design. Saya bukan designer, saya pedagang. Jadi batik yang motifnya bagus pun harganya sama aja. Saya ngitung harga berdasarkan bahan dan pekerjaan aja. Pekerjaan segini, bahannya ini, berarti harganya sekian. Kasian Bu pekerja saya. Ini</em> *sembari menepuk-nepuk tumpukan batik* <em>beban moral buat saya, kalau lama terjualnya berarti mereka kan juga tersendat nafkahnya.</em></p>
<p>Tak terasa sekian menit sudah berlalu, sambil ngobrol aku sambil menaksir beberapa batik yang aku suka. Ada satu jenis yang unik, yaitu motif remukan atau motif serat kayu. Motif ini dibuat dengan cara meremas-remas beberapa bagian kain yang sudah dilapisi <em>malam</em> (lilin untuk membatik) sehingga hadir celah yang bisa disusupi oleh zat pewarna ketika proses pencelupan<em>.</em> Celah-celah tipis itulah yang nantinya membentuk motif seperti goresan serat kayu.</p>
<p>Sembari menyimak, mataku tetap jelalatan&#8230; lalu tiba-tiba tertumbuk pada satu kain bermotif gradasi&#8230; atau lebih dikenal dengan istilah batik pelangi (tau kan iklan di TV yang mengisahkan jatuh bangunnya Mas Sobari, si penemu batik pelangi khas Pekalongan?). Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku bertanya bagaimana sih cara membuat batik seperti itu?</p>
<p>Hmmm.. jawaban si Bapak masih kurang memuaskan, mungkin karena dia pun bukan membuatnya sendiri. Dia hanya mengira-ngira saja bahwa prosesnya melibatkan pengecapan, penyablonan, dan pencoletan. <em>Well</em>, tak apa, berarti masih ada pe-er yang mesti kucari&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Menyenangkan berbincang langsung dengan pengusaha batik yang sudah turun-temurun berkecimpung di dunia itu, dunia yang belum sampai hitungan tahun aku akrabi namun sudah berhasil merangsang antusiasme yang lama terlena.</p>
<p>Pertemuan dengan si bapak pemilik lapak yang tak sengaja kusinggahi itu pun ditutup dengan satu tawaran menggiurkan&#8230; <em>Silakan hubungi saya saja Bu, kalau Ibu nanti ingin memproduksi batik dengan design dan budget dari Ibu. Saya pasti bantu.</em></p>
<p>Wah! Terima kasih Pak. Yakinlah, saya akan menghubungi Bapak kalau saat itu datang nanti. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />Filed under: <a href='http://garutbersemi.wordpress.com/category/dreaming/'>Dreaming</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garutbersemi.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garutbersemi.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garutbersemi.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garutbersemi.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garutbersemi.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garutbersemi.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garutbersemi.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garutbersemi.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garutbersemi.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garutbersemi.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garutbersemi.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garutbersemi.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garutbersemi.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garutbersemi.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=255&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/14/mimpi-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/816141d39600f0d585f401ccca673bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">simkuring</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/06/butik-batik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">butik-batik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batiknya Kok Mahal?</title>
		<link>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/10/batiknya-kok-mahal/</link>
		<comments>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/10/batiknya-kok-mahal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 03:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simkuring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Action]]></category>
		<category><![CDATA[Dreaming]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/10/batiknya-kok-mahal/</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari jualan kain batik Garutan, belakangan ini banyak sekali ide-ide berseliweran di benakku. Di antaranya menyediakan baju batik siap pakai. Yang paling simple tentunya kemeja pria, yang potongannya memang ga neko-neko. So yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana menjahitnya. Aku &#8230; <a href="http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/10/batiknya-kok-mahal/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=254&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img height="250" alt="jesicca-alba-in-batik" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/06/jesicca-alba-in-batik.jpg?w=179&#038;h=250" width="179" align="right" />Berawal dari jualan kain batik Garutan, belakangan ini banyak sekali ide-ide berseliweran di benakku. Di antaranya menyediakan baju batik siap pakai. Yang paling simple tentunya kemeja pria, yang potongannya memang ga neko-neko.</p>
<p>So yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana menjahitnya. Aku maupun partnerku sama sekali ga bisa menjahit, dan ga punya penjahit langganan pula. Option pertama adalah order ke pemasok kain batik ybs, yang kebetulan juga menawarkan pilihan tsb. Jadi aku tinggal pilih kainnya dan minta dia yang menjahitkan dengan ongkos jahit hanya Rp 30.000,- per kemeja. Murah kan!</p>
<p>Namun berhubung si pemasok ada di luar kota, jadinya kurang praktis untuk customerku yang perlu diukur badannya, atau yang sudah beli kain duluan. Akan lebih mudah kalau aku punya penjahit andalan di sini, di wilayah sekitar tempatku beredar (baca: tinggal dan kerja). Maka mulailah aku berburu informasi&#8230;.</p>
<p>Tempat bertanya nomor satu tentulah Om Google. Tapi sayang si Om ga begitu membantu kali ini. Jadi aku pun mengelilingi daerah ini secara manual (go show). Sekian lama tinggal di sini aku ga pernah memperhatikan di mana saja ada penjahit/tailor, hehehe. Ternyata ada cukup banyak.</p>
<p>Tapiiiii&#8230; hasilnya mengecilkan hati&#8230; Ongkos jahit termurah yang aku dapatkan adalah Rp 60 ribu, untuk menjahit kemeja pria tanpa vouring. Penjahit lain ada yang mematok tarif 65 ribu atau 75 ribu. Sedangkan untuk kemeja dengan vouring harganya mencapai 125 ribu. Mahal sekaliiiiiiiiiiiii&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Yang termurahnya saja sudah 2x lipat ongkos jahit pemasokku.</p>
<p>Bagaimana bisa begitu ya? Entah di sini yang kemahalan atau di sana yang kemurahan?</p>
<p>Sembari masih mencari alternatif lain, aku pun merenung lebih jauh. Di Tanah Abang atau pasar-pasar rakyat banyak dijual baju-baju batik (printing) dengan warna, model, dan motif yang semarak. Harganya? Kalau pintar menawar mungkin bisa dapat 30 ribu rupiah. Rata-ratanya mungkin 45 ribu. Ckckckck&#8230; kalau harga baju jadinya saja sudah segitu, berapa harga bahan bakunya? Dan berapa pula jasa si penjahit dihargai? Pasti di bawah 30 ribu ya. <em>*thinking*</em></p>
<p>Pantas saja para pembatik tradisional (kain batik dengan teknik membatik menggunakan lilin dan canting atau cap) mengeluh bahwa mereka kesulitan bersaing dengan industri batik &#8220;gadungan&#8221; (kain tekstil biasa yang motifnya batik). Ini pun menjawab pertanyaanku, kenapa kok batik itu mahal. Cost dan effort yang dikeluarkan untuk membatik tidak bisa ditekan karena setiap karya belum tentu langsung laku. Jadi para pembatik harus menaikkan harga jual agar keuntungan yang didapat bisa mensubsidi kain-kain yang tidak terjual. Tapi di pasaran justru orang lebih memilih batik printing yang jauh lebih murah dibandingkan batik asli yang mahal. Well, akhirnya jadi lingkaran setan.</p>
<p>Padahal kalau mau, para investor dalam negeri yang punya modal besar bisa saja memproduksi batik dalam jumlah banyak (katakanlah batik cap agar bisa menghasilkan batik dengan lebih cepat dibandingkan batik tulis)&#8230; kemudian dijual dengan harga yang lebih murah (walaupun tidak semurah batik printing). Lha sekarang ini produsen batik yang modalnya gede malah harga batiknya gila-gilaan sampai jut-jut. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Didukung oleh kampanye batik yang gencar dari pemerintah pusat dan pemda, pengelolaan sentra-sentra batik di tiap daerah, pameran-pameran, dsb&#8230; mungkin saja perlahan-lahan masyarakat mulai terbangkitkan hasratnya untuk memiliki batik asli dalam negeri kalau harganya sudah lebih terjangkau.</p>
<p>Dan ketika menyukai batik sudah mendarah-daging (seperti merokok, bahkan orang yang duitnya pas-pasan lebih memilih beli rokok daripada beli makan), mudah-mudahan para pengrajin batik tidak lagi harus mematok harga tinggi untuk setiap karya yang dihasilkan.</p>
<p>Masa sih, batik yang katanya warisan asli budaya Indonesia ini, lebih banyak dimiliki oleh orang asing daripada warga negaranya sendiri, &#8216;hanya&#8217; karena kita ga sanggup membelinya&#8230; <em>(atau karena ga merasa perlu memilikinya? hayoooo.. kamu punya batik berapa setel? satu? tuh kan&#8230; hehehe).</em></p>
<p>Aku pun ingin juga bisa jualan dengan enak&#8230; dan ga sering-sering mendengar komentar, <em>&#8220;Duhhh mahal amattt.. kemaren aku liat di pasar anu batik ginian cuma 40 ribu lho!&#8221;</em></p>
<p>Semoga&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />Filed under: <a href='http://garutbersemi.wordpress.com/category/action/'>Action</a>, <a href='http://garutbersemi.wordpress.com/category/dreaming/'>Dreaming</a>, <a href='http://garutbersemi.wordpress.com/category/learning/'>Learning</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garutbersemi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garutbersemi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garutbersemi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garutbersemi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garutbersemi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garutbersemi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garutbersemi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garutbersemi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garutbersemi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garutbersemi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garutbersemi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garutbersemi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garutbersemi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garutbersemi.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=254&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/06/10/batiknya-kok-mahal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/816141d39600f0d585f401ccca673bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">simkuring</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/06/jesicca-alba-in-batik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jesicca-alba-in-batik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Langit Kembali Biru</title>
		<link>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/03/24/langit-kembali-biru/</link>
		<comments>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/03/24/langit-kembali-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 02:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>simkuring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Action]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garutbersemi.wordpress.com/2011/03/24/langit-kembali-biru/</guid>
		<description><![CDATA[Up and down, up and down, up down up down up.. Roda kehidupan memang selalu berputar. Terkadang malah berputar secara mendadak, tak terduga. Kemarin, semesta menjentikkan jarinya dan menggulirkan roda itu ke atas. Belum maksimum ke puncak memang, tapi sudah &#8230; <a href="http://garutbersemi.wordpress.com/2011/03/24/langit-kembali-biru/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=246&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img height="375" alt="lights-poster2" src="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/03/lights-poster2.jpg?w=450&#038;h=375" width="450" /></em></p>
<p><em>Up and down, up and down, up down up down up..</em></p>
<p>Roda kehidupan memang selalu berputar. Terkadang malah berputar secara mendadak, tak terduga.</p>
<p>Kemarin, semesta menjentikkan jarinya dan menggulirkan roda itu ke atas. Belum maksimum ke puncak memang, tapi sudah cukup untuk memompakan semangat dan harapan baru.</p>
<p>Semoga kesan positif yang kami tangkap tidak salah. Semoga memang demikianlah adanya.</p>
<p>Yang membuatku tak habis pikir adalah skenario yang diatur semesta sedemikian rupa sehingga kamilah yang menjadi saksi sekaligus penerima informasi itu. Padahal semula kami hanya berniat sekedar hadir dan menemani.</p>
<p>Dan kemudian malamnya, kubisikkan kabar gembira yang kedua itu padanya&#8230;</p>
<p><em>&#8220;Rasanya langit kembali terlihat ada biru-birunya deh,&#8221;</em> dia merespon dengan lucunya. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8230;</p>
<p><em>(Keyword: widiavi64)</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://garutbersemi.wordpress.com/category/action/'>Action</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garutbersemi.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garutbersemi.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garutbersemi.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garutbersemi.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garutbersemi.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garutbersemi.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garutbersemi.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garutbersemi.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garutbersemi.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garutbersemi.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garutbersemi.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garutbersemi.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garutbersemi.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garutbersemi.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garutbersemi.wordpress.com&amp;blog=12305226&amp;post=246&amp;subd=garutbersemi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garutbersemi.wordpress.com/2011/03/24/langit-kembali-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/816141d39600f0d585f401ccca673bf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">simkuring</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garutbersemi.files.wordpress.com/2011/03/lights-poster2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lights-poster2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
